A place where you need to follow for what happening in world cup

Siswa SMAN 19 Trauma Atas Perlakuan dan Ucapan Oknum Guru

0 2,212

Surabaya, Jawa Timur || Gerbang News

Perlakuan dan ucapan kasar seorang tenaga pendidik terhadap muridnya tidak patut ditiru. Padahal, seorang guru harus memberi contoh perilaku dan suri tauladan yang bagus, baik ucapan maupun perlakuan.

Kejadian itu menimpa seorang pelajar bernama Hanny, kelas XII IPA di SMA Negeri 19 Surabaya, menjadi trauma hingga tidak ingin sekolah karena ucapan wali kelasnya inisial E. Hal tersebut membuat emosi orang tua memuncak dan akan membawa masalah ini ke ranah hukum.

Dikatakan Amin Wahyudi, orang tua Hanny, bahwa mulai dari anaknya masih kelas X mulai tidak nyaman mengikuti kegiatan belajar karena ucapan guru seni budaya, yakni E.

“Saat Hanny ditanya guru tersebut, kenapa sering tidak masuk sekolah. Sebelum Hanny menjelaskan, guru tersebut melontarkan ucapan yang seharusnya tidak terucap dari seorang guru didik ‘gak usah kakean omong, tak kaplok (tidak usah banyak bicara, tak tampar)’. Ucapan itu dilontarkan di joglo besar waktu pelajaran praktek diluar kelas dan disaksikan oleh teman-temannya,” kata Amin menjelaskan.

“Akhirnya, saya nemui Jaenuri selaku kepala sekolah untuk pengunduran diri Hanny dari SMAN 19. Namun, kepala sekolah tidak mengizinkan dan akhirnya Hanny lanjut sekolah di SMAN 19,” sambungnya.

Dijelaskan oleh Amin, pada kelas XII, ketika Hanny mulai masuk sekolah 2 minggu pertama, anaknya masuk seperti biasanya. Namun, Hanny merasa down ketika mengetahui wali kelasnya adalah E.

“Setelah mengetahui wali kelasnya E, anak saya merasa down dan mulai tidak nyaman karena trauma. Akan tetapi, anak saya tetap masuk sekolah meskipun dengan keadaan gelisah dan resah,” ujarnya.

Amin menuturkan, Hanny tetap masuk sekolah meskipun sakit dan seiringnya waktu Hanny sering izin ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya. Padahal hasilnya sudah diberikan ke BK dan wali kelasnya.

“E ini seolah tidak percaya kalau Hanny ini sakit meskipun hasil dari rumah sakit sudah saya berikan. E ini sering tanya ke anak saya ‘kamu ini sakit apa sih’ dan yang lebih miris lagi menurut keterangan dari temannya, E berkata biarkan saja Hanny tidak masuk sekolah, Hanny sudah kena mental dan sakit Hanny tidak bisa sembuh,” tuturnya.

Akibat ucapan E, anaknya sering menjadi bully dan disindir teman-teman sekelasnya, sehingga anaknya merasa dikucilkan dan menjadi trauma tidak mau masuk sekolah lagi.

“Atas ucapan E, anak saya trauma dan tidak mau masuk sekolah lagi, padahal ujian kelulusan tinggal 3 bulan. Akhirnya, saya ke Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kota Surabaya dan bertemu pengawas sekolah Hari untuk meminta solusi untuk anak saya,” kata Amin.

Lebih lanjut, Amin mengatakan, pengawas sekolah memberikan solusi untuk mencari sekolahan dan untuk permasalahan Dapodik dia yang mengurus. Tetapi Amin merasa kecewa, karena sudah mengadu ke Kacabdin Kota Surabaya hingga Dinas Pendidikan Jawa Timur tidak ada tindakan apapun.

“Apabila tidak ada tindakan tegas atau solusi, saya akan menempuh ke jalur hukum untuk melaporkan E yang telah meresahkan anak saya dan mengganggu psikologi anak saya,” pungkasnya.

( Red )

Leave A Reply

Your email address will not be published.