A place where you need to follow for what happening in world cup

Pameran Tunggal Sarat Makna Dibuka di Taman Budaya Jawa Timur

34

Surabaya || Gerbang News

 

Pameran lukisan tunggal bertajuk “Tubuh-Tubuh Spiritual” karya perrupa Welldo Wnophringgo resmi dibuka pada Rabu sore (15/04/2026) di Galeri Prabangkara, Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali No. 85 Surabaya.

 

Pameran ini akan berlangsung selama tujuh hari, mulai 15 hingga 21 April 2026, menghadirkan rangkaian karya yang tidak hanya menonjolkan estetika visual, tetapi juga kedalaman spiritual dan refleksi sosial.

 

Pembukaan pameran dilakukan oleh Kepala UPT Taman Budaya Jawa Timur, Deddy Haryono, SE, dengan kurator Agus “Koecink” Sukamto, M.Sn, yang dikenal sebagai perrupa sekaligus penulis seni rupa. Acara pembukaannya juga dimeriahkan oleh performance art dari Welldo Wnophringgo dan Mbah Gimbal Sang Putra Alam, serta musik electone dari Rijal.

 

Sejumlah seniman turut hadir, di antaranya Taufik Hidayat atau yang akrab disapa Taufik “Monyong”, serta komunitas lintas budaya seperti Seduluran Abdi Dalem Eyang Joko Dolog.

 

Dalam narasinya, Agus “Koecink” Sukamto menegaskan bahwa perjalanan seorang manusia tidak berhenti pada aspek teknis, melainkan merupakan proses panjang evolusi batin yang terekam dalam karya visual.

“Pelukis atau Perupa bukan sekedar menciptakan karya tertuang dalam goresan kanvas, melainkan juga menyalurkan pesan dan keresahan jiwa yang dirasakan oleh sang pelukis tersebut,” jelasnya.

 

Ia juga menambahkan bahwa karya-karya Welldo menunjukkan bahwa seni adalah bagian dari laku hidup (way of life) yang tidak bisa dibatasi oleh medium semata.

“Tangan atau tubuh seorang pelukis bukan lagi sekedar memegang kuas, melainkan sebagai sarana kritik sosial terhadap ketimpangan di masyarakat khususnya kaum marjinal,” ujarnya.

 

Dalam kesempatan terpisah, Welldo Wnophringgo menyampaikan bahwa seni merupakan cermin realitas sosial sekaligus ruang ekspresi kegelisahan batin.

“Saya memposisikan diri saya sebagai saksi sekaligus pengritik realitas, isu-isu kemanusian dan ketidakadilan yang terjadi di masyarakat,” ungkapnya.

 

Namun, ia mengakui bahwa perjalanan kreatifnya kini memasuki fase baru yang lebih kontemplatif. Dari pengamatan terhadap realitas eksternal, ia beralih pada eksplorasi internal yang lebih dalam.

“Ini adalah fase dimana spiritualisme menjadi kompas utama dalam lukisan-lukisan saya, dan tidak lagi ‘berteriak’ menuntut perubahan sistem, melainkan ‘berbisik’ mengajak penyucian diri dan kesadaran akan eksistensi yang lebih tinggi,” pungkas Welldo.

 

Lukisan-lukisan yang ditampilkan dalam pameran ini menghadirkan visual anatomi tubuh manusia dengan bentuk yang unik dan elastis, dipadukan dengan dinamika gerak yang ekspresif.

 

Setiap karya merepresentasikan hubungan antara tubuh, jiwa, dan alam dalam satu kesatuan yang harmonis. Perspektif yang diangkat menampilkan bahwa kehidupan berjalan dalam keteraturan dan keseimbangan, meski seringkali diwarnai oleh konflik sosial.(Redaksi)