Kota Surabaya, Jawa Timur || Gerbang News
Ditlantas Polda Jawa Timur gelar Evaluasi dan Analisa pelaksanaan operasi ketupat Semeru selama periode 24 Maret sampai dengan 09 April 2025 bersama Polres jajaran di Mapolda Jatim, Selasa (08/04/2025) Siang.
“Operasi yang berlangsung selama 16 hari ini dinyatakan kondusif dan aman, penurunan terjadi gangguan Kamtibmas selama operasi berlangsung,” tutur Komarudin.
Sejak diberlakukan Operasi Ketupat Semeru 2025 yang dimulai pada 24 Maret sampai 9 April 2025, arus lalu lintas mengalami peningkatan kendaraan yang masuk di wilayah Jawa Timur dan penurunan kejadian laka lantas.
Kemudian dijelaskan, bahwa Jawa Timur menduduki peringkat kedua tertinggi dengan daerah asal dan daerah tujuan dari pemudik setelah Jawa Tengah.
Sementara untuk mobilitas kendaraan ataupun aktivitas pemudik yang masuk ke Jawa Timur, berdasarkan traffic counting melalui jalur arteri terjadi peningkatan sampai 50 persen.
Dir Lantas menegaskan, pelanggaran yang tercatat melalui kamera ETLE, tahun ini, ia mengklaim ada penurunan sampai 15% atau sebanyak 12.011 pelanggar dibanding tahun lalu sebesar 14 ribu pelanggaran. Untuk teguran meningkat sebanyak 42%.
“Jadi, kita melakukan operasi kemanusiaan ini memperbanyak teguran dengan mengimbau kepada para pengguna jalan. Terkecuali memang pelanggaran-pelanggaran yang berpotensi terhadap kecelakaan dimana diantaranya pelanggaran yang paling banyak mendapatkan penindakan yakni, pelanggaran melawan arus, yang termasuk penggunaan knalpot brong atau tidak sesuai dengan spektek,” ungkapnya.
Perwira lulusan Akpol 1997 itu dihadapan awak media mengatakan, berdasarkan catatan ada beberapa kejadian dan gangguan yang terjadi di wilayah hukum Polda Jatim.
Selama kurun waktu pelaksanaan operasi selama 16 hari, tercatat jenis gangguan Kamtibmas sebanyak 1.835 kasus.
“Kejahatan konvensional turun 21,79 persen tercatat 1.486 kasus dibanding tahun lalu 1.900 kasus. Sedangkan untuk bencana tetap, tahun lalu ada 6 kejadian dan tahun ini juga ada 6 kejadian,“ ujar Komarudin.
Perlu diketahui, Pelanggaran melawan arus masih tertinggi, teguran dan imbauan berkali-kali disampaikan petugas kepada pengguna jalan. Yang paling banyak mendapat penindakan hukum yakni, pelanggaran melawan arus dan juga menggunakan knalpot tidak sesuai dengan speak.
“Untuk teguran meningkat sebanyak 42 persen, dimana pada operasi kemanusiaan ini kami perbanyak teguran mengimbau para pengguna jalan kecuali pelanggaran yang berpotensi terhadap kecelakaan,“ ungkapnya.
Setelah ditutup operasi pada tadi (08/04/2025) malam, kecelakaan lalu lintas selama pelaksanaan operasi tercatat 514 kasus kecelakaan menurun 32 persen dibanding dengan tahun lalu ada 758 kasus kecelakaan.
Sementara tingkat fatalitas atau korban meninggal dunia turun 78 persen dimana ada 10 korban meninggal dunia selama pelaksanaan operasi dibanding tahun lalu tercatat 45 orang meninggal dunia, luka berat turun 2 persen tercatat 44 luka berat dibanding tahun lalu ada 45 orang dan luka ringan menurun 27 persen,” ungkapnya.