MOJOKERTO | Empat perupa dari Mojokerto, masing-masing Hadi Sucipto, Iskandar, Joni Ramlan dan Ribut Sumiyono, akan menggelar pameran seni rupa di Sangkring Art Space, Yogyakarta, mulai 21 Maret hingga 3 April 2012.
Pameran bertajuk Trowulan Art, Homo Mojokertensis akan dibuka Ir.Mahatmanto, MT, dosen Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta.
GerbangNews berhasil mengadakan wawancara dengan Pak Cip (panggilan akrab Hadi Sucipto), koordiantor sekaligus juru bicara dari empat perupa yang ikut pameran. Wawancara diadakan di rumah Pak Cip, di Jalan A.Yani Desa Belahan Mojosari, Minggu, 11 Maret 2012 pukul 13.35 wib.
Hujan gerimis. Kopi kampung menemani wawancara.
Berikut hasil wawancaranya:
Saya baca di facebook, undangan, poster,dan spanduk pameran seni rupa Trowulan Art, Homo Mojokertensis di Sangkring Art Space sudah tersebar. Selamat ya Pak.
Terima kasih mas malik.
Untuk pameran kali ini, sampeyan mengikutkan karya yang mana pak?
Saya menampilkan karya 26 sket, rata rata berukuran 40 x 54 cm dan 40 x 27. Bahannya dari kertas, dengan tinta dan acrylic.
Obyek sket saya antara lain Candi Bangkal, Candi Rimbi, Gapura Wringin Lawang, Candi Brahu.
Konsepnya tentang artefak..bagaiman kita belajar dari karya masa lalu yang sangat tinggi nilainya. Saya mencatat banyak situs yang rusak karena kita tak banyak yang mampu membacanya.Kita biarkan begitu saja.
Karya sket saya dominan warna terakota. Sengaja saya pilih warna terakota karena citranya yang sederhana tetati agung dan sakral.
Pande Ktut Taman, pelukis yang tinggal di Muntilan, mengingatkan saya ketika dolan ke rumahnya tahun baru kemarin bahwa warna mojopahit adalah warna terakota.
Kenapa peserta pamerannya empat orang? Angka empat punya arti khusus ya, pak?
Karena ada kesamaan emosi diantara kami berempat untuk menggali jati diri Mojokerto lewat ekspresi masing-masing.
Jadi kedekatan saya, Mas Ribut, Mas Joni dan Cak Iskandar, karena memang benar-benar ingin meng update Mojokerto ke permukaan lewat seni budaya. Jadi pentingnya identitas agar kita lebih percaya diri. Terus terang saya mengidolakan Walikota Solo, Bapak Jokowi yang tak henti-hentinya meng update Solo lewat berbagai even ...Menurut Pak Jokowi Solo masa depan adalah Solo masa lalu. Sungguh menarik pernyataan beliau. Disini boleh jadi saya percaya bahwa Mojokerto masa depan adalah Mojokerto masa lalu. Gagasan inilah yang kami bawa dalam pameran Trowulan Art, Homo Mojokertensis ke Sangkring Art Space. Sayangnya ada kecenderungan di masyarakat yang tidak mau belajar pada masa lalu.
Dalam pameran ini saya menampilkan karya sketsa, Cak Iskandar menampilkan karya foto, Mas Joni Ramlan lukisan, dan Cak Ribut Sumiyono patung.
Bagaimana proses kreatif sampeyan saat nyeket?
Saya sering melalkukannya in situ artinya saya menghadapi obyek secara langsung.
Sehingga saya sering dibuat kagum oleh obyek yang saya kerjakan baik itu di museum dan sekitar candi. Sementara hasilnya ya dengan cara yang sangat sederhana melalui drawing gambar.Saya utarakan isi hati saya atas kekaguman pada oyek tersebut.
Pernah suatu kali saya nyeket di Yoni Gambar di Kampung Mojoduwur Mojoagung. Dekat Sumberboto Mojoagung. Sore sekitar jam setengah lima. Ditemani Mas Arif “Gopar” Budi. Tiba tiba saya mencium aroma wangi seperti kembang melati. Saat itu sket naga di Yoni Gambar hampir selesai.Padahal di sekitar lokasi tak ada tanaman melati, hanya sawah. Mas Arif Budi juga tidak membawa parfum melati. Yang terbeit di pikiran saya: nampaknya sang penunggu Yoni Gambar “merestui” saya nyeket Naga di Yoni Gambar. Sket Naga Yoni Gambar bersama 3 karya Cak Iskandar, Mak Ribut dan Mas Joni, dimuat dalam undangan, poster dan spanduk Trowulan Art, Homo Mojokertensis.
Pernah juga dengan istri tercinta nyeket di Candi Bangkal, di Dusun Bangkal Desa Candiharjo Kecamatan Ngoro. Habis shalat jumat. Berkat doa restu dari istri tercinta, saya langsung berhasil merampungkan 6 sket.baru berhenti setelah acrilyc dan tinta habis. Candi Bangkal merupakan candi yang istimewa. Menurut catatan sejarah Candi Bangkal diyakini sebagai krematorium tempat pembakaran Raja Airlangga.
Karya sket saya yang lain yang akan ditampilkan adalah Camundi. Entah kenapa saya suka melukis Camundi. Camundi adalah patung perwujudan istri Syiwa (aspek paling dahsyat dari istri syiwa). Digambarkan sebagai perempuan yang memiliki sifat penghancur. Menjadi koleksi Museum Trowulan dan dipajang di Pendopo belakang.
Saya mengirim sket Camundi sebanyak 3 karya, masing masing berukuran 45 x 54 dan 40 x 27.
Sebelumnya saya telah melukis Camundi tahun 2005 diatas kanvas berukuran 135 x 120 cm. Karya tersebut pernah saya ikutkan dalam sebuah pameran seni rupa bersama di rumah dinas Kapolres Kediri.
Ganesha adalah favorit saya yang lain. Ganesha dewanya ilmu pengetahuan. Koleksi ganesha ada di Museum Trowulan di Pendopo belakang. Karya sket saya dengan obyek Ganesha sebanyak 4 karya dengan ukuran 40 x 27.
(istirahat sebentar..Pak Cip membuatkan mie goreng dengan telur....ternyata rasanya ciamik lho..)
Kapan sih rencana pameran Trowulan Art dimulai?
Sejak dua tahun lalu kami telah memasukkan proposal ke Sangkring Art Space bersamaan dengan Biennale Yogja tahun 2009. Kami bersyukur, proposal kami mendapat respon positif dari manajemen Sangkring Art Space dan bulan Maret 2012 saya dan teman-teman Mojokerto dapat berpameran di Sangkring Art Space.
Bagaimana peran Pak Putu Sutawijaya dalam pameran Trowulan Art, Homo Mojokertensis?
Sejak tiga tahun lalu, Pak Putu Sutawijaya intens ke Trowulan. Beliau menemukan “sepotong surga di Trowulan”. Diam diam , Bli Putu melakukan survei dan studi pada candi candi di Trowulan dan sekitarnya. Pak Liong, panggilan akrab beliau, seringkali mengajak kami melukis on the spot di beberapa candi. Tak hanya sendiri, Bli Putu juga mengajak Komunitas Bol Brutu (Gerombolan Pemburu Batu) blusukan ke Trowulan. Mendokumentasikan artefak lewat berbagai cara:memotret, merekam video, nulis puisi, slide, catatan perjalanan. Dokumentasi tersebut akhirnya dipamerkan di Sangkring Art Space, dengan judul How Brutu Are You? Bol Brutu dan Situs-Candi Hindu-Buddha. Foto saya dengan obyek Candi Bangkal juga “katut” dipamerkan.
Dalam perayaan Waisak di Candi Brahu, tim Bol Brutu hadir 20-an orang dengan komandan Pak Kris Budiman.Menurut saya ini juga bagian publikasi pada dunia wisata di Trowulan. Apalagi Komunitas Bol Brutu juga menyertai perjalanan blusukan ke Trowulan dengan wisata kuliner makan sambel wader di samping Museum Trowulan, depan Kolam Segaran.
Selo Adji milik Cak Ribut Sumiyono menjadi tempat menginap yang nyaman. Disinilah terjadi jagongan yang mengasyikkan. Diam diam kami sedang menjalin diplomasi budaya antar kota, antar kultur, antar art space dan antar agama. Semuanya mengalir indah. Ditemani bercangkir- cangkir kopi tentunya..he he he.
Adakah dukungan lain yang bisa dicatat sebagai pemberi semangat menggelar pameran Trowulan Art Homo Mojokertensis?
Kunjungan 18 perupa Yogya ke ke Padepokan Selo Adji Trowulan pada hari Minggu, tanggal 20 November 2011. Saya merasa sebuah kehormatan yang luar biasa karena kesediaan teman-teman perupa Yogya memerhatikan kami yang kecil di Mojokerto. Suatu pemantik semangat kami untuk berani berpameran di Sangkring Art Space, meskipun secara bersama-sama.
(Ke-18 perupa Yogya yang ikut ke Padepokan Selo Adji adalah Putu Sutawijaya, Samuel Indratma, Yuswontoro Adi, Bambang Heras, Ivan Sagito, Nasirun, Sigit Santosa, Bayu Wardana, All Bara, Komoroden Haro, Si Nick, Tarman, Maman Rahman, Pandu, Pande Ketut Taman, Melodia, Agung Sukindra, Enggar Yuwono. Bonus: 2 pemusik , Encik dan BG).
Hobby Pak Cip saat ini apa ya?
Saya suka naik Vespa Super 1964 warna biru dan Vespa Sprint 1975 warna putih. Saya juga mengoleksi VW kodok putih tahun 1968.
Terima kasih Pak Cip untuk wawancaranya, juga kopi dan mie gorengnya.|lik


