PROBOLINGGO | Empat jembatan putus terkena banjir bandang, memaksa ribuan warga di 6 desa di Probolinggo terisolir. Akibat jembatan putus ini warga mengaku harus memutar hingga 10 kilo meter. Dan kini warga hanya bisa pasrah sambil berharap agar instansi terkait segera membangun jembatan baru, mengingat kejadian banjir bandang terjadi sudah sebulan.
Aktivitas warga Desa Ranon, Gunggungan Lor dan Gunggungan Kidul, Kecamatan Pakuniran dan Gading yang harus melintasi jembatan darurat dari bambu yang dibuatnya dengan dana swadaya. Selain itu, 3 desa lainya seperti Batur, Patemon dan Tanah Merah juga mengalami nasib yang sama.
Bila hujan deras dan debit sungai meningkat, maka jembatan darurat tersebut hilang dan aktivitas warga lumpuh dan harus membuat jembatan darurat lagi. Sekitar 9 ribu warga terpaksa harus menuntun motor untuk melakukan aktivitasnya, karena jembatan penghubung yang biasa dilaluinya hancur akibat disapu banjir bandang sebulan silam.
Sedangkan untuk melintasi jalur lain, warga harus memutar sekitar 10 kilo atau mengojek dengan ongkos Rp 20 ribu. Akibat jembatan putus ini, warga mengaku harus mengeluarkan dana lebih, pasalnya harga sembako menjadi naik dan tidak bisa menjual hasil pertanian mereka.
Kini warga hanya pasrah dan berharap agar pemerintah atau instasi terkait segera membangun jembatan baru agar perekonomian warga kembali normal, karena kondisi ini sudah dialaminya sejak awal Februari lalu.
Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Probolinggo membenarkan tentang terjadinya 4 jembatan rusak di wilayahnya akibat banjir bandang awal Februari lalu. Dan BPBD sudah berupaya semaksimal mungkin untuk mengatasi masalah ini, karena keterbatasan biaya, memaksa BPBD tidak bisa berbuat banyak.|han


