NGANJUK | Simpati terhadap ibu guru Fitria, penderita tumor otak yang kini mengalami kelumpuhan, langsung berdatangan dari banyak pihak. Warga berharap, pemerintah segera turun tangan membawa ibu guru Fitria berobat ke rumah sakit karena kondisinya sangat memprihatinkan.
Aksi simpati mulai mengalir terhadap ibu guru Fitria, guru SDN Ngangkatan 1 yang terbaring tak berdaya di rumahnya di Desa Ngadiboyo Kecamatan Rejoso Kabupaten Nganjuk. Sudah tiga tahun, guru muda dengan status sukwan yang kini berusia 27 tahun itu mengidap tumor otak.
Namun pasca menjalani operasi di RSUD Dr Sutomo Surabaya dua setengah tahun lalu, kondisi ibu guru Fitria bukannya membaik dan justru mengalami kelumpuhan. Bahkan tak hanya lumpuh difisiknya saja untuk berbicara, makan dan minum, ibu guru Fitria kini juga tidak bisa.
Dengan tubuh yang kurus kering, sesekali ibu guru Fitria hanya bisa merintih dan menangis. Meski menderita sudah cukup lama, dua setengah tahun lebih, sampai saat ini pihak keluarga tak kunjung membawa ibu guru Fitria ke rumah sakit lagi karena tak punya biaya.
Sebab meski mengaku memiliki kartu Jamkesmas pada operasi dua setengah tahun lalu, Parti dan Waridi, orang tua ibu guru Fitria masih dikenakan biaya sebesar Rp 30 juta.
Uang sebanyak itu, tentu sangat sulit didapatkan oleh keluarga Waridi yang sehari-hari hanya bekerja sebagai buruh tani.
Tak tahan melihat penderitaan ibu guru Fitria, sejumlah pihak mulai dari pejabat, TNI, guru hingga pejabat di lingkungan Dinas Pendidikan siang tadi langsung datang menjenguk dan memberi support pada ibu guru Fitria.
Purwanto, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPTD) Dinas Pendidikan Kabupaten Nganjuk berharap pemerintah segera membantu ibu guru Fitria berobat agar ibu guru Fitria sembuh dan dapat kembali mengabdi dengan menjadi guru bagi masyarakat.|tar
Gerbangnesia