GerbangNews

Alternative flash content

To view this Flash you need Javascript on your browser and updated version of flash player.

Saat ini ada di: Teras Depan Dari Kayutangan Ihwal Mbah Reni & Topeng Malangan*)

Ihwal Mbah Reni & Topeng Malangan*)

E-mail Print PDF
User Rating: / 0
PoorBest 

21-01 topeng malangan yongkiOleh Yongki Irawan, Komunitas Lintas Budaya Malang Raya

KEKAYAAN etnis dan budaya yang dimiliki Kota Malang berpengaruh terhadap kesenian tradisional yang ada. Salah satunya yang terkenal adalah Wayang Topeng Malangan (Topeng Malang), namun kini semakin terkikis oleh kesenian modern.

Gaya kesenian ini adalah wujud pertemuan tiga budaya (Jawa Tengahan, Madura dan Tengger). Hal tersebut terjadi karena Malang memiliki tiga sub-kultur, yaitu sub-kultur budaya Jawa Tengahan yang hidup di lereng Gunung Kawi, sub-kultur Madura di lereng Gunung Arjuna, dan sub-kultur Tengger sisa budaya Mojopahit di lereng Gunung Bromo Semeru. Etnik masyarakat malang terkenal religius, dinamis, suka bekerja keras, lugas dan bangga dengan identitasnya sebagai Arek Malang (AREMA) serta menjunjung tinggi kebersamaan dan setia kepada Malang.

Malang merupakan kota sejarah, sebagai kota yang menyimpan misteri embrio tumbuhnya kerajaan-kerajaan besar seperti Tumapel, Kanjuruhan, Singosari, Kediri (Dhoho), Mojopahit, Demak dan Mataram. Bahkan kota Malang juga terukir diawal kemerdekaan Republik, kota Malang tercatat masuk nominasi akan dijadikan Ibukota Negara Republik Indonesia. Mari sekilas kita mengenal sejarah besar yang melintas di Malang.

Kerajaan Kanjuruhan

Kanjuruhan adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu di Jawa Timur, yang pusatnya berada di dekat Kota Malang sekarang. Kanjuruhan diduga telah berdiri pada abad ke-6 Masehi (masih sejaman dengan Kerajaan Taruma di sekitar Bekasi dan Bogor sekarang). Bukti tertulis mengenai kerajaan ini adalah Prasasti Dinoyo. Rajanya yang terkenal adalah Gajayana. Peninggalan lainya adalah Candi Badut dan Candi Wurung.

Jaman dahulu, ketika Pulau Jawa diperintah oleh raja-raja yang tersebar di daerah-daerah. Raja Purnawarman memerintah di Kerajaan Tarumanegara; Putri Simha memerintah di Kerajaan Holing; dan Raja Sanjaya memerintah di Kerajaan Mataram Kuna. Di Jawa Timur terdapat pula sebuah kerajaan yang aman dan makmur.Kerajaan itu berada di daerah Malang sekarang, diantara Sungai Brantas dan Sungai Metro, di dataran yang sekarang bernama Dinoyo, Merjosari, Tlogomas, dan Ketawanggede Kecamatan Lowokwaru. Kerajaan itu bernama Kanjuruhan.

Bagaimana Kerajaan Kanjuruhan itu bisa berada dan berdiri di lembah antara Sungai Brantas dan Sungai Metro di lereng sebelah timur Gunung Kawi, yang jauh dari jalur perdagangan pantai atau laut? Kita tentunya ingat bahwa pedalaman Pulau Jawa terkenal dengan daerah agraris, dan di daerah agraris semacam itulah muncul pusat-pusat aktivitas kelompok masyarakat yang berkembang menjadi pusat pemerintahan. Rupa-rupanya sejak awal abad masehi, agama Hindu dan Budha yang menyebar di seluruh kepulauan Indonesia bagian barat dan tengah, pada sekitar abad VI dan VII Masehi sampai pulau di daerah pedalaman Jawa bagian timur, antara lain Malang. Karena Malang-lah kita mendapati bukti-bukti tertua tentang adanya aktivitas pemerintahan kerajaan yang bercorak Hindu di Jawa bagian timur.

Bukti itu adalah prasasti Dinoyo yang ditulis pada tahun 682 saka atau kalau di jadikan tahun masehi ditambah 78 tahun, sehingga bertepatan dengan tahun 760 M. Disebutkan seorang raja yang bernama Dewa Sinta, memerintah keratonnya yang amat besar yang disucikan oleh api Sang Siwa. Raja Dewa Sinta mempunyai putra bernama Liswa, yang setelah memeritah menggantikan ayah nya menjadi raja bergelar Gajayana. Pada masa pemerntahan raja Gajayana, Kerajaan Kanjuruhan berkembang pesat, baik pemerintahan, sosial, ekonomi maupun seni budayanya. Dengan sekalian para pembesar negeri dan segenap rakyatnya, Raja Gajayana membuat tempat suci pemujaan yang sangat bagus guna memulikan Resi Agastya. Sang raja juga menyuruh membuat arca sang Resi Agastya dari batu hitam yang sangat elok, sebagai pengganti arca Resi Agastya yang dibuat dari kayu oleh nenek Raja Gajayana.

Dibawah pemerintahan Raja Gajayana, rakyat merasa aman dan terlindungi. Kekuasaan kerajaan meliputi daerah lereng timur dan barat Gunung Kawi, ke utara hingga pesisir laut Jawa. Keamanan negeri terjamin. Tidak ada peperangan. Jarang terjadi pencurian dan perampokan, karena raja selalu bertindak tegas sesuai dengan hukum yang berlaku.

Raja Gajayana hanya mempunyai seorang putri, yang oleh ayahanda diberi nama Uttejana. Seorang putri kerajaan perwaris tahta Kerajaan Kanjuruhan. Ketika dewasa, ia dijodohkan dengan seorang pangeran dari Paradeh bernama Pangeran Jananiya. Akhirnya Pangeran Jananiya bersama Permaisuri Uttejana, memerintah kerajaan warisan ayahnya ketika sang Raja Gajayana mangkat. Seperti leluhur-leluhurnya, mereka berdua memerintah dengan penuh keadilan. Rakyat Kanjuruhan semakin mencintai rajanya. Demikianlah, secara turun-temurun Kerajaan Kanjuruhan diperintah oleh raja-raja keturunan Raja Dewa Simha. Semua raja itu terkenal akan kebijaksanaannya, keadilan, serta kemurahan hatinya.

Pada sekitar tahun 847 Masehi, Kerajaan Mataram Kuna di Jawa Tengah diperintah oleh Sri Maharaja Rakai Pikatan Dyah Saladu. Raja ini terkenal adil dan bijaksana. Dibawah pemerintahan nyalah Kerajaan Mataram berkembang pesat, kekuasaannya sangat besar. Ia disegani oleh raja-raja lain diseluruh Pulau Jawa. Keinginan untuk memperluas wilayah Kerajaan Mataram Kuna selalu terlaksana, baik melalui penaklukan dengan peperangan antara Kerajaan Mataram Kuna dengan Kerajaan Kanjuruhan. Ketika Kerajaan Mataram Kuna diperintah oleh Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung, raja Kerajaan Kanjuruhan menyumbangkan sebuah bagunan candi perwara (pengiring) di komplek Candi Prambanan yang dibangun oleh Sri Maharaja Rakai Pikatan tahun 856 M (dulu benama “Siwa Greha”). Candi pengiring (perwara) itu ditempatkan pada deretan sebelah timur, tepatnya di sudut tenggara. Kegiatan pembangunan semacam itu merupakan suatu kebiasaan bagi raja-raja daerah kepada pemerintah pusat. Maksudnya agar hubungan kerajaan pusat dan kerajaan di daerah selalu terjalin dan bertambah erat.

Kerajaan Kanjuruhan saat itu praktis dibawah kekuasaan Kerajaan Mataram Kuna. Walaupun demikian Kerajaan Kanjuruhan tetap memerintah di daerahnya. Hanya setiap tahun harus melapor ke pemerintah pusat. Di dalam struktur Pemerintah Kerajaan Mataram Kuna jaman Raja Balitung, raja Kerajaan Kanjuruhan lebih dikenal dengan sebutan Rakryan Kanuruhan, artinya “ Pengusaha daerah” di Kanuruhan. Kanuruhan sendiri rupa-rupanya perubahan bunyi dari Kanjuruhan. Karena sebagai raja daerah, maka kekuasaan seorang raja daerah tidak seluas ketika menjadi kerajaan yang berdiri sendiri seperti ketika didirikan oleh nenek moyangnya dulu. Kekuasaan raja daerah di Kanuruhan dapat diketahui waktu itu adalah daerah lereng timur Gunung Kawi.

Daerah kekuasaan Rakryan Kanuruhan watak Kanuruhan. Watak adalah wilayah yang luas, yang membawahi berpuluh-puluh wanua (desa). Jadi mungkin daerah watak itu dapat ditentukan hampir sama setingkat kabupaten. Dengan demikian Watak Kanuruhan membawahi wanua-wanua (desa-desa) yang terhampar seluas lereng sebuah timur Gunung Kawi sampai lereng barat Pegunungan Tengger-Semeru ke selatan hingga pantai selatan Pulau Jawa.

Dari sekian data nama-nama desa (wanua) yang berada di wilayah (watak) Kanuruhan menurut sumber tertulis berupa prasasti yang ditemukan di sekitar Malang adalah sebagai berikut :

  1. Daerah Balingawan (sekarang Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis),

  2. Daerah Turryan (sekarang Desa Turen, Kecamatan Turen),
  3. Daerah Tugaran (sekarang Dukuh Tegaron, Kelurahan Lesanpuro),

  4. Daerah Kabalon (sekarang Dukuh Kebalon Cemarakandang),

  5. Daerah Panawijyan (sekarang Kelurahan Polowijen, Kecamatan Blimbing),

  6. Daerah Bunulrejo (yang dulu bukan bernama Desa Bunulrejo pada jaman Kerajaan Kanuruhan),

  7. Daerah-daerah di sekitar Malang barat seperti : Wurandungan (sekarang Dukuh Kelandungan - Landungsari), Karuman, Merjosari, Dinoyo, Ketawanggede, yang di dalam beberapa prasasti disebut-sebut sebagai daerah tempat gugusan kahyangan (bagunan candi) di dalam wilayah/kota Kanuruhan.

Demikianlah daerah-daerah yang menjadi wilayah kekuasaan Rakryan Kanuruhan. Dapat dikatakan mulai dari daerah Landungsari (barat), Palowijen (utara), Pakis (timur), Turen (selatan). Keistimewaan pejabat Rakryan Kanuruhan ini disamping berkuasa di daerahnya sendiri, juga menduduki jabatan penting dalam pemerintahan Kerajaan Mataram Kuna sejak Jaman Raja Balitung, yaitu sebagai pejabat yang mengurusi urusan administrasi kerajaan. Jabatan ini berlangsung sampai jaman Kerajaan Mojopahit. Begitulah sekilas tentang Rakryan Kanuruhan. Penguasa di daerah tetapi dapat berperan di dalam struktur pemerintahan kerajaan pusat, yang tidak pernah dilakukan oleh pejabat (Rakryan) yang lainnya, dalam sejarah Kerajaan Matarm Kuna di masa lampau.

Lahirnya Tari Topeng

Tari Topeng lahir sekitar abad XI di jaman kejayaan kerajaan Kahuripan. Pada abad tersebut hingga abad XIV, pemerintahan kerajaan mengalami perkembangan yang sangat menarik dan begitu semarak , mulai dari Kahuripan , Kediri, Singasari, Daha dan Mojopahit. Demikian halnya kesenian drama Topeng, juga mengalami perkembagan sangat pesat.

Namun, pada abad XIV dimana Kerajaan Mojopahit mulai runtuh, kesenian drama Topeng-pun terkena imbasnya, karena dimasa itu kesenian drama Topeng hanya dipersembahkan untuk kalangan raja dan para tamunya saja.

Disaat Kerajaan Mojopahit mengalami keruntuhan, topeng-topeng tersebut dipindahkan ke Kabupaten Malang dan dikelola oleh Bupati pertama yang bernama Ronggotohjiwo. Dan hingga Ronggotohjiwo wafat belum juga menemukan penari yang memadai untuk melestarikan kesenian drama Topeng tersebut.

Pada saat R. Surgo menjabat sebagai Bupati kedua, ditemukan kembali penari dan pemahat Topeng di mana salah seorang tokoh penarinya adalah Wakil Bupati yang bernama R.Soerjoatmodjo (Kanjeng Soerjo), yang masih memiliki keturunan dari Mojopahit.

Kesenian drama Topeng hidup kembali di bawah pimpinan Kanjeng Soerjo yang dibantu oleh R.Sugono (pejabat pembantu Bupati), dan R. Pandji (Camat Pakisaji), namun tetap juga sama seperti di jaman sebelum-sebelumnya, yakni kesenian drama Topeng hanya digelar di lingkup pendopo kabupaten saja yang merupakan kegemaran para pajabat.

Kebetulan saat itu di kabupaten ada seorang abdi dalem bernama Reni dari Desa Polowijen, yang keseharianya sebagai pengukir topeng. Berawal dari sinilah Desa Polowijen akhirnya menjadi pusat pembuatan Topeng tersebut. Seorang abdi dalem pendopo yang lain, Gurawan kelahiran Kepanjen adalah seorang penari topeng yang pernah belajar kepada Kanjeng Soerjo. Kepiawaian Gurawan dalam melakonkan kesenian drama Topeng akhirnya memikat Ny. Yalis (orang Belanda), yang akhirnya meminta Gurawan untuk berkerja di rumahnya di Desa Kali Surak, Lawang.

Ny. Yalis ternyata punya rencana lain , maka Gurawan dibelikan sebuah Topeng hasil karya Reni di Desa Polowijen. Ny, Yalis akhirnya bersama dengan Gurawan mendirikan sebuah perkumpulan kesenian drama Topeng, dan Gurawan dipercayai sebagai pimpinan sekaligus sebagai dalangnya.

Sepeninggalnya Ny. Yalis perkumpulan ini diteruskan oleh puteranya yang bernama Panderkhol, seorang pejabat di pabrik kopi di Kecamatan Ngajum, bersama Gurawan berpindah tempat di desa Blodo Kecamatan Ngajum. Di desa inilah Gurawan mempunyai anak yang bernama Marwan. Sepeninggalnya Panderkhol, Gurawan dan keluarga berpindah ke Desa Bangeran Kecamatan Sumberpucung dengan membawa sejumlah topeng dan perlengkapanya yang telah menjadi miliknya.

Di tempat baru tersebut Gurawan menghimpun kembali sebuah perkumpulan topeng dan penari-penarinya, yaitu : Marwan, Wurian, Djasemin, dan seorang lagi dari Desa Kedungmonggo bernama Serun.

Serun pun juga akhirnya mengembangkan kesenian tersebut didaerahnya. Serun mempunyai seorang anak yang bernama Kiman yang juga turut melanjutkan bakat ayahnya dalam olah tari topeng. Kiman mempunyai anak yang bernama Karimun.

Di era Karimun dengan group topeng ‘Asmoro Bangun’ yang dipimpinnya, merupakan masa yang tersulit dalam hal melestarikan kesenian tradisional drama Topeng Malangan. Masuknya budaya barat dan kemajuan teknologi sudah tidak terbendung dan terbilang pesat pengaruhnya. Namun, Karimun dan groupnya tetap konsisten menjalankan keseniannya yang lengkap dengan ritual-ritualnya setiap kali sebelum menggelar kesenian tradisional drama Topeng Malang-an.|

*) bagian dari buku Tari Malangan Vol.1 karya Yongki Irawan

 

Add comment


Security code
Refresh