GerbangNews

Alternative flash content

To view this Flash you need Javascript on your browser and updated version of flash player.

Saat ini ada di: Teras Depan Bisnisnesia Artwork Limbah Jati karya Suwanto

Artwork Limbah Jati karya Suwanto

E-mail Print PDF
User Rating: / 0
PoorBest 

05-20 limbah jatiTUBAN │Bagi orang lain, tonggak-tonggak pohon jati yang banyak berserakan di area hutan produksi mungkin tak banyak memiliki nilai. Selain untuk kayu bakar, limbah tebangan jati itu tak bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain.

Tetapi bagi Suwanto (27), tonggak jati yang biasa disebut “bonggol” itu tidak sekedar limbah yang hanya bermanfaat untuk tungku dapur. Di tangan Suwanto, bonggol itu berubah menjadi karya seni yang memiliki nilai tinggi, bukan saja dari sisi kualitas seninya, tetapi nilai ekonomisnya juga jauh lebih tinggi dibanding nilai ekonomis kayu bakar.

Naluri seni Suwanto berhasil mengubah bonggol-bonggol jati itu menjadi bentuk-bentuk unik dan memiliki nilai estetika tinggi. Sebuah bonggol bisa ia bentuk serupa orang tua yang sedang merintih kesakitan atau wajah ayu yang sedang tersenyum. “ Tergantung mood-nya. Tapi bahan juga menentukan,” kata Suwanto.

Tak sulit bagi Suwanto mendapatkan bahan mentah untuk diolah menjadi karya seni patung unik tersebut. Desa Sugihan Kecamatan Jatirogo tempat ia tinggal, berada di kawasan hutan produksi KPH Jatirogo.  Bonggol jati bekas tebangan banyak berserakan di sana. Suwanto hanya perlu mengasah imajinasinya untuk mengubah bonggol-bonggol yang ia dapat itu menjadi bentuk-bentuk unik. Umumnya manusia. Alasannya, manusia adalah obyek paling mudah mengalami degradasi bentuk.

Suwanto mengaku tidak pernah belajar secara khusus untuk bisa mengubah bonggol jati menjadi karya seni tersebut. Ia memang dianugerahi bakat seni oleh Tuhan. Kehidupan sehari-hari yang lekat dengan kayu, memberi pemuda itu keterampilan mengukir dan mengolah bonggol-bonggol jati. Desa tempatnya tinggal itu memang terkenal sebagai gudangnya para perajin kayu jati. Dari perkakas rumah tangga yang sederhana seperti dipan, meja-kursi dan kusen, hingga perkakas yang terlihat unik dan spesifik, mampu diproduksi para perajin di tempat itu.

Hanya saja, meski tidak sulit menjangkau desa tersebut, para perajin kayu jati itu, termasuk Suwanto, masih terlihat kesulitan memasarkan hasil karyanya. Franky, Ketua Forum Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Kecataman Jatirogo mengatakan, pihaknya hingga kini masih berusaha mencari terobosan pasar agar karya para perajin yang saat ini berada di bawah pembinaannya itu bisa lebih memiliki nilai ekonomis. Selama ini, kata Franky, para perajin hanya mengandalkan pasar lokal. “ Memang sempat pasar kerajinan bonggol jati ini booming. Pesanan luar biasa banyak. Tetapi hanya sebentar, sekarang drop, lesu,” kata Franky.

Penyebabnya, lanjut Franky, harga karya-karya itu lumayan mahal untuk bisa diserap pasar lokal. Karena itulah pasar hasil kerajinan tangan-tangan terampil tersebut sangat terbatas. Hanya orang-orang yang masuk golongan menengah ke atas yang menjadi pangsa-nya. Bayangkan saja, untuk sebuah patung setinggi 30 cmdipatok harga Rp 500 ribu. Sementara fungsi-nya hanya sebagai penghias ruangan.

Karya-karya perkakas rumah tangga pun sama. Meski lebih memiliki nilai fungsi, perkakas dari bonggol jati itu tetap tidak banyak diminati pasar menengah kebawah yang merupakan pangsa terbesar. Perkakas dari bonggol jati lumayan besar ukurannya sehingga butuh ruang lumayan luas juga.

Franky sendiri mengakui keterbatasan-keterbatasan itu. Karenanya ia bersama para perajin tidak memaksakan diri untuk mampu menguasai pasaran lokal. “ Saat ini kami berupaya memperlebar wilayah pemasaran, bukan pangsa. Pangsa yang masih tersedia di wilayah lain kami coba masuki,” kata Franky.

Namun usaha itu harus dilakukannya dengan sangat sabar sebab kemampuan invasi pasar para perajin itu juga masih sangat rendah. Mereka perajin murni yang tidak pernah berpikir manajemen pemasaran. Terlebih modal mereka pun rata-rata kecil. Lewat pameran-pameran seperti Pameran Pembangunan tersebut Franky dan perajin gembol jati binaannya memperkenalkan produknya pada publik. Hasilnya lumayan. Hampir di setiap event pameran yang mereka ikuti, minimal satu unit hasil karya perajin terjual. “ Kami sebenarnya sangat menunggu inisiatif Pemkab untuk mengangkat potensi luar biasa ini. Tanpa keterlibatan Pemerintah, kami ragu kalau kerajinan gembol ini bisa bertahan hingga lima tahun berikutnya,” kata Franky.|bek

 

Add comment


Security code
Refresh