GerbangNews

Alternative flash content

To view this Flash you need Javascript on your browser and updated version of flash player.

Saat ini ada di: Teras Depan Bisnisnesia Harga Cabe Jatuh

Harga Cabe Jatuh

E-mail Print PDF
User Rating: / 0
PoorBest 

05-20 harga cabe hancurTUBAN │Derita petani cabe belum berakhir rupanya. Setelah terpukul akibat merosotnya harga cabe di pasaran sebulan lalu, pukulan lebih keras lagi diterima petani cabe seminggu belakangan. Harga cabe saat ini benar-benar jatuh ke level terendah,

dengan hanya Rp 2000/kg.  Sejumlah petani cabe yang ditemui gerbangnews.com, Minggu (20/5), mengaku mengalami rugi besar akibat jatuhnya harga cabe ini. “ Puluhan juta keuntungan saya hilang. Dengan harga Rp 4000 per kilo kemarin saja saya sudah rugi Rp 12 juta, sekarang malah lebih parah lagi,” keluh Sukat, petani cabe di Desa Gesikan, Kecamatan Grabagan.

Sukat sendiri mengaku sudah beralih profesi sebagai pencari barang bekas lantaran musim bertani telah usai. Hujan sudah tidak lagi turun sebulan terakhir. Sementara di daerah sekitar lahannya yang berada di pangkuan Perhutani KPH Tuban, BKPH Semanding, tidak ada sumber air yang bisa dimanfaatkan. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih harian saja, Sukat dan warga di dusun
tersebut harus mendatangkan air dari daerah lain. Jika masih ingin menggarap lahan cabenya, mereka harus mengeluarkan biaya lumayan besar. Untuk lahan seluar satu hektar, kata Sukat, sedikitnya membutuhkan dua tanki air per hari. Air tersebut diangkut truk dari Desa Beron, Kecamatan Rengel dengan biaya Rp 80 ribu/truk. Dengan harga cabe hanya Rp 5000/Kg, petani macam Sukat jelas tekor.

Nasib yang tidak jauh beda juga dialami petani cabe di Desa Gesikan, kecamatan yang sama. Suroteko (57), salah seorang petani di desa itu mengaku saat petik seminggu lalu saja, ia sedikitnya tekor Rp 1,5 juta. Produksi cabenya merosot hingga 50 % lebih. “ Cabenya banyak yang kering dan mati karena kurang air. Biasanya saya bisa dapat lebih dari 1 ton per hektar, lha sekarang hanya dapat setengahnya kurang. Sudah gitu harganya jatuh,” keluh Suroteko.

Dalam satu kali tanam, Suroteko bisa memetik 4-5 kali. Namun lantaran musim hujan telah berakhir, ia dan petani cabe di tempatnya sengaja hanya melakukan petik sekali, awal Juni lalu. Pohon-pohon cabe yang sedang berbuah sengaja dibiarkan mengering dan mati pelahan di lahan. Suroteko mengaku hal itu jauh lebih baik daripada harus terus-menerus tekor sebab untuk petik cabe-cabenya tersebut, ia harus menyewa jasa petik dengan upah Rp 50 ribu/orang/hari. Untuk memetik cabe seluas 1 hektar, Suroteko biasanya menggunakan jasa 4 orang pemetik.|bek

 

Add comment


Security code
Refresh