JOMBANG │Sudah hampir 10 tahun ini, warga Desa Bandung, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, menekuni bisnis yang dianggap kebanyakan orang menjijikkan, yakni beternak ulat, salah satunya adalah Baidowi (53).
Dalam bisnis ulat hongkong, Baidowi termasuk pendatang baru (baru setengah tahun). Sebelumnya, ia mengaku sudah puluhan tahun menjadi peternak ikan lele. Namun karena lama-kelamaan hasilnya terus merosot, ia beralih beternak ulat hongkong, menyusul para tetangganya yang sudah sukses sebelumnya.
Sebab berbeda dengan ikan lele, beternak ulat hongkong sangat mudah dan relatif jauh dari resiko kematian ataupun penyakit. Padahal hasilnya sangat menjanjikan. Untuk beternak ulat hongkong, kita hanya tinggal membeli bibit, berupa indukan (kepik) yang banyak dijual di toko pertanian. Indukan tersebut kemudian diletakkan pada sebuah tempat berupa ijuk atau serabut kelapa. Setelah bertelur dan menjadi anak ulat, dipisahkan anak ulat tersebut ke dalam wadah tersendiri yang penuh dengan bekatul. Setiap hari, Baidowi memberi makan ulat-ulatnya dengan polar atau serbuk sagu.
Dengan cara sederhana ini, dari 50 kilogram indukan atau biaya 1 sampai 2 juta rupiah di awal usaha, setiap 3 hari sekali, Baidowi dapat memanen sedikitnya 25 kg ulat hongkong dan menjualnya 25 ribu rupiah perkilogramnya. Untuk menjualnya, ia mengaku juga tidak sulit, karena setiap hari selalu ada saja pengepul yang datang dan memborong ulat hongkong hasil peternakan warga. Ulat jenis ini, banyak dibutuhkan masyarakat untuk pakan burung atau ikan. Dalam sebulan, dari 50 kg indukan, Baidowi mengaku dapat meraup omzet antara 6 sampai 7 juta rupiah per bulan.|tar
| < Prev | Next > |
|---|


