"Sejarah Kelam" Sengketa Lahan Tanjung Manggopoh Bakal Berakibat Buruk

By Team Gerbang 17 Des 2017, 16:10:52 WIBKriminal

"Sejarah Kelam" Sengketa Lahan Tanjung Manggopoh Bakal Berakibat Buruk

Agam - Gerbangnews.com

Masih segar dalam ingatan pada tanggal 6 September 2017 lalu, Menjadi sejarah kelam bagi Suku Tanjung Manggopoh. Sekelompok massa gabungan, pada pukul 04.00 Wib, tiba – tiba menyerang Yayasan Tanjung Manggopoh (YTM).

Dari investigasi media ini, bahwa massa gabungan tersebut diduga kuat sebagiannya adalah masyarakat Tanjung Manggopoh, yang berhasil dihasut oleh salah satu Organisasi Masyarakat (baca; Ormas). Ninik Mamak Tanjung Manggopoh sangat menyesalkan kejadian tersebut. Pihak Ninik Mamak mensinyalir pula bahwa ‘MK’ adalah otak dibalik penyerangan itu, karena beberapa bukti sangat kuat menunjukkan bahwa ‘MK’ sangat intensif melakukan agitasi/ penghasutan terhadap anak kemenakan di Suku Tanjung.

“Tak mungkin, tidak ada angin, kemudian ada hujan. Ada akibat, tentu ada sebabnya pula. Hal inilah yang kami sangat sesalkan, kalau hanya benturan horizontal antara Ninik Mamak dan Anak Kemanakan, bisa diselesaikan secara adat. Kemudian apabila ada perseolaan hukum, bisa pula diselesaikan secara proses hukum,” ungkap Tim Advokasi YTM, kepada Media-Bhayangkara.Com.

Lebih parahnya lagi, setelah penyerangan subuh tersebut, siangnya massa melakukan pemburuan terhadap buruh YTM dan melakukan panen sepihak terhadap hasil panen YTM. Kemudian, setelah panen sepihak tersebut, tiba – tiba Kapolres Agam pada tanggal 9 September 2017 menetapkan lahan YTM yang secara defacto and de jure sudah sah itu, dengan status quo.

Penetapan status quo tersebut menuai banyak pertanyaan. Sebab, YTM mengelola lahan tersebut sudah sesuai dengan dasar dan hukum yang incraht dan jelas, artinya bukan lahan konflik yang tidak jelas.

Menyoal terhadap status quo oleh Kapolres Agam sangat  disayangkan, karena lahan yang dikelola YTM bukanlah lahan konflik, malah penyerangan subuh itu terkesan diskenario sedemikian rupa. Apabila hal tersebut adalah tindakan pengamanan di TKP (Tindak Kejadian Perkara), kemudian dengan menutup dan mengamankan TKP (mempertahankan status quo) dengan membuat batas/ tanda garis polisi (police line), tentu bisa dilakukan dengan alasan – alasan yang kuat, bukan karena permintaan salah satu pihak yang ‘merasa’ saja. Karena diketahui status Quo tersebut atas permintaan Wali Nagari Manggopoh, tanggal 9 September 2017, Nomor : 140/247/Pem-2017 tentang Status Quo dan Pengamanan Kebun Plasma Sawit KUD II Manggopoh. Sementara Pada tahun 2001 secara sah, dengan berkas – berkas yang kuat KUD II Manggopoh sudah menyerahkan pengelolaan kepada Ninik Mamak dan pihak menjadikan YTM sebagai pengelola yang sah pula.

Sementara itu, Keanehan makin menguak, bahwa subuh tanggal 6 September 2017 tersebut, Massa gabungan dengan pengawalan ketat kepolisian mendatangi lokasi YTM. Artinya, disini mulai kecurigaan timbul, polisi dengan truck water cannon dan mobil patroli, seolah – olah mengawal aksi brutal subuh kelam itu.

Lalu, tiba – tiba saja 3 hari setelah penyerangan, Kapolres menetapkan status quo dan pihak massa brutal dengan berbagai dalih memanen sepihak hasil sawit yang dikelola oleh YTM. Kalau memang status quo, tentu tidak satupun yang bisa menyentuh lahan tersebut hingga saat ini.

Namun faktanya, hingga saat ini massa penyerang bersama – sama dengan Ormas yang ikut menyerang, dengan lahap dan suka ria memanen hasil sawit dan menurut pantauan media ini, beberapa personil Polres Agam juga tampak berjaga dilokasi.

Salah seorang nara sumber yang sempat dikonfrontir oleh media ini menyebutkan, bahwa sejarah kelam itu adalah dampak kemesraan hubungan antara Wali Nagari Manggopoh dengan Kapolres Agam. Wali Nagari Manggopoh yang disinyalir adalah salah satu actor intelektual penyerangan yang juga berhubungan kuat dengan Wali Jorongnya Defrizal Awunk, seakan mendapatkan perlakukan khusus dari Kapolres Agam.

Dugaan itu makin menguat, disatu sisi Polres Agam memberikan pengawalan yang super ketat dan pengamanan lokasi ketika pihak massa gabungan memanen yang menyerang dan memanen sepihak. Sementara ketika pihak YTM meminta pengamanaan, Polres Agam malah menolak permintaan tersebut dengan mengirim surat balasan, Nomor: B/954/IX/2017.

Tim Kuasa Hukum YTM sangat menyayangkan keadaan tersebut. Menurut pihaknya, asas keadilan dan kepastian hukum di Wilayah Hukum Polres Agam, sudah patut dipertanyakan. ( Team/Red )

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Online Support (Chat)

Gerbang News

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat

Berita Apa Yang Anda Sukai?
  Korupsi
  Kriminal

Komentar Terakhir

  • AaronCoott

    wh0cd78893 [url=http://buy-baclofen.us.com/]baclofen buy online[/url] ...

    View Article
  • Michaelcoive

    wh0cd7394 [url=http://celexageneric.store/]cheap celexa online[/url] ...

    View Article
  • CharlesErory

    wh0cd278502 [url=http://vardenafilbestprice.us.com/]Vardenafil[/url] ...

    View Article
  • Michaelcoive

    wh0cd7394 [url=http://buytoradol.doctor/]buy toradol online[/url] ...

    View Article