Malam 1 Suro : Tradisi Kirab Kebo Kyai Slamet Kota Solo

By Team Gerbang 04 Okt 2016, 07:11:15 WIBSeni dan Budaya

Malam 1 Suro : Tradisi Kirab Kebo Kyai Slamet Kota Solo

Gerbangnews.com

         Sudah menjadi Tradisi bagi warga kota solo, Setiap malam syuro dengan menggelar acara Kirab Kebo Bule Malam 1 Suro di Solo. Sebuah Tradisi yang Unik - Tempat Wisata Terindah - Di Kota Solo saat ini terdapat sebuah Kerajaan bercorak Islam yaitu Kasunanan Surakarta. Kasunanan Surakarta merupakan salah satu hasil pemisahan dari Kerajaan Mataram Islam.
         Sampai saat ini di Kerajaan Kasunanan Surakarta masih berdiri dan memiliki raja yang berkuasa, Berbeda dengan Kasultanan Yogyakarta yang diberi keistimewaan untuk memerintah Provinsi Yogyakarta. Kasunanan Surakarta tidak memiliki keistimewaan itu. Meskipun Kasunanan Surakarta masih berdiri, Namun tunduk pada Pemerintahan Republik Indonesia sepenuhnya.
         Sebagai sebuah kerajaan Islam, Kasunanan Surakarta masih melestarikan berbagai macam budaya yang bernafaskan Islami. Salah satunya adalah ketika memasuki Bulan Muharram atau malam Tahun Baru Islam, Kasunanan Surakarta menyelenggarakan Kirab Budaya berupa Kirab Kebo Bule Kyai Slamet. Dalam Penanggalan Jawa, Bulan Muharram dikenal dengan Bulan Suro. Sehingga Kirab Kebo Bule ini sering dikenal dengan Korab Malam 1 Suro, Kebo Bule yang ada di Kasunanan Surakarta ini merupakan hewan yang dikeramatkan pihak Keraton. Kebo Bule merupakan jenis Kerbau Albino, Sehingga dari penampakannya berbeda dengan kerbau kebanyakan. Karena Albino warna kerbau ini cenderung Putih.
         Menurut pihak Keraton Kasunanan, Kebo Kyai Slamet sendiri sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Kebo Bule yang sekarang masih ada ini adalah keturunan dari Kebo Bule Kyai Slamet, Adanya event peringatan malam Tahun Baru Islam pada 1 Suro dengan kirab Kebo Bule Kyai Slamet menjadikan satu atraksi budaya yang menarik bagi masyarakat sekitar. Bahkan pengunjung yang datang tidak hanya dari Kota Solo sendiri, Namun juga dari berbagai kabupaten disekitarnya.
         Selama Kirab berlangsung, Para Abdi Dalem yang ikut dalam Kirab diwajibkan untuk tidak bicara atau tapa bisu. Di sepanjang perjalanan, Banyak warga yang berebut untuk menyentuh kerbau yang dianggap keramat ini. Bahkan ada sebagian masyarakat yang memiliki kepercayaan bahwa kotoran Kebo Bule ini dapat memberikan berkah. Oleh karena itu, Kotoran Kebo Bule yang keluar di sepanjang perjalanan pun tak hampir selalu ada yang mengambilnya.

         Ada banyak cerita menarik berhubungan dengan Kebo Bule Kyai Slamet ini. Konon Kebo Bule ini dibiarkan bebas berkeliaran di mana saja, Bahkan sampai pergi ke luar Kota Solo. Apabila kerbau ini memakan sesuatu, Misalnya tanaman pertanian, Maka biasanya petani membiarkannya dan tidak mengusirnya. Petani bahkan merasa senang apabila tanamannya dimakan Kebo Kyai Slamet, Karena hal itu dapat menjadi keberkahan yang tersendiri.
         Pada saat Kirab malam 1 Suro, Keberlangsungan Kirab juga tergantung dari Kebo Bule Kyai Slamet ini. Kalau sudah saatnya Kirab dia tidak mau keluar, Ya berarti Kirab akan dibatalkan. Sering kejadian Kirab Malam 1 Suro sampai mundur karena Kebo Bule ngambek gak mau keluar kandang.
         Sebanyak tujuh ekor Kebo (kerbau) Bule keturunan Kyai Slamet akan dikirab bersama Pusaka-Pusaka pada, Minggu (2/10/2016 ) kota solo sejak siang hari sampai malam pukul 21:30 di guyur hujan lebat yang mengakibatkan banjir di berbagai titik kota. Tapi tidak membuat warga solo dan sekitarnya untuk mengurungkan diri keluar setelah hujan reda, Karena malam itu kota solo mempunyai event tradisi tahunan yaitu Kirab Pusaka Kyai Slamet seekor kerbau bule sebagai maskot dari Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

         Tengah malam atau Senin (3/2/2016) dini hari, Kirab tersebut sebagai peringatan pergantian malam tahun baru Islam atau malam 1 Suro penanggalan Jawa. Tahun ini, 1 Suro versi hitungan Keraton Surakarta jatuh pada Senin (3/10/2016). Berbeda dengan kalender nasional yang jatuh pada Minggu (2/10/2016).
         Kirab malam 1 Suro memang tidak terlepas dari Kebo Bule Kyai Slamet. Kebo Bule Kyai Slamet memiliki sejarah panjang yang mengandung banyak hal Unik, Tak masuk akal. Merangkum fakta-fakta tentang Kebo Bule Kyai Slamet dari berbagai sumber:
1. Waktu pelaksanaan Kirab malam 1 Suro bergantung pada 'kemauan' Kebo Bule.
2. Waktu pelaksanaan upacara untuk memperingati malam 1 Suro dilangsungkan pada tengah malam, Namun tepatnya disesuikan dengan kemauan Kebo Bule kapan mau keluar kandang.
         Terkadang Kebo Bule baru mau keluar kandang setelah pukul 01.00 dini hari. Kebo Bule biasanya berjalan keluar sendiri menuju halaman Keraton tanpa digiring, Jika Kebo Bule tak mau jalan maka Kirab pun belum dilaksanakan.
         Sebagaian masyarakat percaya, kotoran (tlethong), air jamasan dan bersentuhan dengan Kebo Bule membawa berkah. Anda boleh percaya dan juga tidak. Namun, Sebagian masyarakat percaya, menyentuh, mengambil air jamasan bahkan kotoran Kebo Bule saat kirab malam 1 Suro dianggap membawa berkah.
         Karena itu, Saat dikirab pada malam 1 Suro, Sebagaian masyarakat berupaya menyentuh Kebo Bule dan mengambil kotorannya. Masyarakat memadati halaman Keraton Kasunanan Surakarta untuk menyaksikan Kirab malam 1 Suro, Minggu (2/10/2016) pukul 23.30 WIB.
         Pasukan pengaman dari Pramuka dan Setia Hati Terate pun membuat pagar betis di depan para penonton, Sekitar 20 menit kemudian Kerbau Kyai Slamet mulai tampak berjalan menuju halaman depan Keraton. Setelah sampai di depan Keraton, Para Abdi Dalem memberi makan kerbau dengan Jagung dan Ketela.
         Senin (3/10/2016) pukul 00.05 WIB, Rombongan Kirab mulai berangkat berkeliling Kota Solo. Tujuh ekor Kebo Bule Keraton Kasunanan Surakarta berada di barisan paling depan, Dilanjutkan dengan sembilan Pusaka Keraton.
"Ini sebagai peringatan pergantian tahun Jawa sesuai kalender Sultan Agung dahulu yang menciptakan Kalender, Bahasa Jawa, juga Tulisan Jawa," kata Wakil Pengageng Sasana Wilapa, KPA Winarnokusumo.
         Rombongan Kirab diberangkatkan oleh Kondang atau Pelaksana Tugas Raja, KGPH Puger. Setelah rombongan berangkat, Sebagian warga langsung menyerbu kotoran kerbau dan janur yang dipasang di Kamandungan. Hal tersebut dilakukan karena mereka percaya kotoran Kebo Kyai Slamet dan Janur itu bisa mendatangkan berkah tersendiri, alias Bertuah.(IMRON/ed - solo )

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Online Support (Chat)

Gerbang News

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat

Berita Apa Yang Anda Sukai?
  Korupsi
  Kriminal

Komentar Terakhir

  • Harga Speaker Aktif Simbadda

    Harga Speaker Aktif Simbadda ...

    View Article
  • Harga Speaker Murah Bass Mantap

    Harga Speaker Murah Bass Mantap ...

    View Article
  • Harga Speaker Aktif Niko Slank

    Harga Speaker Aktif Niko Slank ...

    View Article
  • Harga Speaker ACR 15

    Harga Speaker ACR 15 ...

    View Article